Kamis, 11 April 2019

Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                                                                Medan,  April 2019
MANFAAT KOMODITI KEHUTANAN ORANGUTAN

Dosen Penanggungjawab
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Ibnu Agung Perdana Harahap
171201176
Hut 4B









PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019





Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam nya, baik hayati maupun non hayati. Sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya dapat diketahui mempunyai kedudukan dan peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia khususnya bagi penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber daya alam hayati terdiri atas hewani, yang biasa disebut sebagai sumberdaya yang berasal dari satwa dan nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Irfan et al. (2011) mengatakan bahwa sumber daya alam tersebut baik secara individu maupun bersama - sama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup yang kehadirannya tidak dapat di gantikan oleh unsur lainnya.
Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu kawasan konservasi di Sumatra yang berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman tumbuhan di ekosistem hutan hujan pegunungan. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser mempunyai luas sekitar satu juta hektar dengan memiliki 350 jenis burung dan lebih dari 4.000 jenis flora. Selanjutnya jenis fauna penting yang menjadi sorotan internasional di TNGL adalah orangutan (Pongo abelii), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
(Samsoedin dan Haeriyanto, 2010).
Terdapat tiga jenis orangutan di Indonesia, yaitu orangutan Borneo
(Pongo pygmaeus) yang  penyebarannya terbatas pada daerah Kalimantan,
orangutan  Sumatra (Pongoabelii) terbatas di bagian utara Sumatera dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) khusus di daerah TNBT. Berdasarkan data Departemen Kehutanan 2007 bahwa Orangutan dianggap sebagai suatu ‘flagship species’ yang di nilai memiliki potensi besar menjadi icon pariwisata untuk wilayah Asia secara umum dan Indonesia secara khusus.

Berdasarkan data WWF ID, Terdapat 13 kantong populasi orangutan di pulau Sumatera. Dari data tersebut diperkirakan hanya tiga kantong populasi yang memiliki sekitar 500  individu dan tujuh kantong populasi terdiri dari 250 lebih individu. Untuk keseluruhan populasi orangutan di Sumatera memiliki populasi sebanyak 14.600 individu termasuk 800 individu Orangutan tapanuli menurut versi berita harian Mongabay.
 P. abelii merupakan salah satu kategori spesies primata yang dilindungi sesuai dengan ketentuan pada UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Secara umum, untuk mendukung kehidupan orangutan diperlukan satu kawasan habitat yang dapat menjamin kehidupannya untuk survival dan bereproduksi. Banyak kegagalan dalam pengelolaan satwa liar maupun orangutan, disebabkan karena kurang perhatian dalam memperbaiki keadaan habitat. Orangutan diperkirakan mempergunakan ruang antara 35-60% dari luas habitatnya (Afkar dan Nadia, 2015).
Berikut merupakan manfaat dari orangutan secara umum, antara lain:
1. Sebagai Seed Disperser dalam Meregenerasi Tanaman
Orangutan merupakan spesies yang dapat bermanfaaat sebagai seed disperser yang memegang peranan penting untuk meregenrasi tanaman di hutan melalui biji-bijian yang telah dimanaknnya. Ini merupakan manfaat orangutan yang paling penting dari peranan bagi kehidupan manusia. Orangutan dapat membantu regenerasi tumbuhan-tumbuhan yang ada di dalam hutan. Orangutan ketika memakan tumbuhan, akan membuang biji tanaman itu di sembarang tempat di dalam hutan. Hal ini akan membuat biji yang dibuang sembarangan tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang tumbuh secara alami.
Inilah manfaat orangutan yang juga penting, berkat orangutan, maka tumbuhan-tumbuhan di dalam hutan akan tumbuh dengan sendirinya, maka dari itu, kondisi kelangsungan ekosistem hutan dan juga tanaman di dalam hutan akan menjadi terjaga. Pohon-pohon tersebut akan sangat baik untuk kehidupan manusia, karena bermanfaat untuk:
·         Memberikan supplai oksigen
·         Memberikan kesejukan bagi lingkungan
·         Menjaga lapisan ozon
·         Dapat menjadi mata pencaharian

2. Sebagai Sumber Pembelajaran
Orangutan dapat menjadi salah satu pembelajran bagi kita. Kehidupan orangutan yang mirip seperti manusia, dapat menjadi pembelajaran hidup untuk manusia. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan ilmu pengetahuan yang dimilik oleh manusia.
3. Sebagai Lokasi Pariwisata
Orangutan juga dapat dimanfaatkan untuk lokasi pariwisata. Loakasi ini biasanya disebut dengan lokasi ekowisata, dimana kita dapat mempelajari kehidupan primata seperti orangutan, dan juga dapat menjadi lokasi untuk relaksasi di tempat wisata tersebut bersama dengan keluarga. Selain itu, lokasi ekowisata seperti ini juga dapat meningkatkan relaksasi bagi para pengunjung, dan juga sebagai pelepas stress.
Pada saat ini pertumbuhan dan perkembangan manusia yang pesat telah menyebabkan keberadaan orangutan semakin lama semakin tertekan. Pengurangan jumlah populasi disebabkan banyaknya konversi habitat yang dilakukan manusia dalam skala besar dari hutan menjadi perkebunan monokultur, illegal logging, pemukiman, pembukaan lahan untuk ladang, perburuan untuk dikonsumsi ataupun untuk diperjual belikan sebagai hewan peliharaan. Faktor-faktor tersebut menjadi faktor eksternal yang berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan hidup orangutan sehingga kemungkinan besar mengakibatkan orangutan dapat berpindah atau keluar dari kawasan hutan. Melihat permasalahan tersebut, maka penulis memberikan suatu upaya yang konkret guna meningkatkan kelestarian kawasan hutan untuk spesies orangutan Sumatera dan satwa liar lainnya

Upaya yang akan saya lakukan untuk penyelamatan Orangutan Sumatera dan habitatnya agar tetap dalam keadaan lestari adalah dengan cara merestorasi kawasan TNGL dengan penanaman jenis bibit pohon sesuai dengan kriteria tempat bersarang dan sumber pakan Orangutan Sumatera (Pongo abelii) sesuai dengan ilmu Dendrologi dan Silvikultur. Ada beberapa ketentuan utama untuk merealisasikan teknik tersebut, yaitu:
1.    penentuaan Lahan yang akan direstorasi
Untuk menentukan lahan yang akan direstorasi dan diubah fungsinya sebagai kawasan habitat spesies Orangutan adalah lahan yang sebelumnya terdegradasi sebagai lahan pertanian atau perkebunan. saat ini yang banyak merambah di kawasan TNGL merupakan perkebunan sawit. Selanjutnya dilakukan pemastian lahan tersebut memiliki tanah yang baik untuk dilakukan penanaman kembali. Dapat diketahui bahwa tanah di area restorasi TNGL relatif sama dengan tanah di hutan primer yang dominan kompleks podsolik coklat, podsolik dan litosol, podsolik merah kuning latosol dan litosol, dan andosol. Jenis bibit pohon yang akan digunakan dalam kegiatan restorasi yang pertama dengan menanam bibit pohon yang memiliki kemampuan hidup tanpa naungan lalu di lanjutkan dengan rentang waktu yang cukup jauh dengan jenis bibit pohon dari family Dipterocarpaceae, Lauraceae, Myristicaceae,  Malvaceae, Sapindaceae, dan Moraceae. 
       Sistem silvikultur yang digunakan dalam upaya restorasi ini adalah THPB. THPB adalah sistem tebang habis permudaan buatan dimana sawit yang berada dalam kawasan tersebut di tebang habis lalu dikonversi dengan bibit pohon yang nantinya akan menjadi tegakan seumur penentuaan jenis bibit pohon sesuai dengan kriteria Orangutan.
Terdapat dua kriteria bibit pohon yang akan di gunakan dalam merestorasi kawasan habitat orangutan, yaitu:
a.    Tempat bersarang
Kriteria yang dimaksud dalam menentukan bibit pohon yang akan menjadi pohon sarang orangutan merupakan bibit pohon yang setelah pertumbuhannya memiliki batang yang kuat sebagai penopang kapasitas ukuran orangutan, memiliki percabangan rapat yang dapat digunakan oleh orangutan sebagai penutup sarang sesuai dengan ilmu dendrologi.

      Dari gambar di atas  posisi yang digunakan lebih banyak Orangutan adalah tipe petit. Tipe ini lebih sering di tempati orangutan jantan agar lebih mudah untuk memandang daerah sekitarnya. Untuk tipe yang lainnya biasanya digunakan oleh orangutan remaja yang tidak terlalu berat untuk mengamati gangguan dari luar. Diketahui untuk bibit yang digunakan dalam kegiatan restorasi adalah Jenis bibit Litsea firma (Lauraceae), Knema latericia (Myristicaceae) dan Shorea ovalis / Shorea parvifolia (Dipterocarpaceae).

b.    Sumber pakan
Pemilihan bibit pohon yang akan di perdayakan untuk sumber pakan orangutan memiliki ketentuan mempunyai buah sebagai sumber pakan yang dapat memikat orangutan baik dari aroma dan ukuran seperti Durio zibethinus (Malvaceae), Arthocarpus integer, Ficus carica (Moraceae), dan Litchi chinensis dan Nephelium Lappaceum (Sampindaceae).



DAFTAR PUSTAKA
Irfan, M. (2014). Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana Pembunuhan Satwa Orang Utan yang Dilindungi Menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990 di Wilayah Ijin USAha Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kabupaten Kutai Kartanegara). Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum1(1).
Kehutanan, D. (2007). Strategi dan rencana aksi konservasi orangutan Indonesia 2007–2017. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Kuswanda, W. (2007). Ancaman Terhadap Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson). Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam4(4), 409-417.
Kuswanda, W., & Pudyatmoko, S. (2012). SELEKSI TIPE HABITAT ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii Lesson 1827) DI CAGAR ALAM SIPIROK, SUMATERA UTARA. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam9(1), 085-098.
Prayogo, H., Thohari, A. M., Sholihin, D. D., & Prasetyo, L. B. (2014). Karakter Kunci Pembeda Antara Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dengan Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Bionatura16(1).
Rifai, M., Patana, P., & Yunasfi, Y. (2013). Analisis Karakteristik Pohon dan Sarang Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Bukit Lawang Kabupaten Langkat (Analysis of the Trees and Nest Characteristics of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) in Bukit Lawang, Langkat District). Peronema Forestry Science Journal, 2(2), 130-136.q
Rijksen, H.D. (1978). A field study on Sumatran orang utans (Pongo pygmaeus abelii Lesson 1827): ecology, behaviour and conservation (Doctoral dissertation, Veenman).
.
Wich, S.A., Atmoko, S.S.U., Setia, T.M., & Van Schaik, C.P. (Eds.). (2010). Orangutans: geographic variation in behavioral ecology and conservation. OUP Oxford.




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar