Tugas Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, April 2019
MANFAAT KOMODITI KEHUTANAN ORANGUTAN
Dosen Penanggungjawab
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si
Oleh:
Ibnu Agung Perdana Harahap
171201176
Hut 4B
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
.
Indonesia merupakan salah satu negara
yang kaya akan sumber daya alam nya, baik hayati maupun non hayati. Sumber daya
alam hayati Indonesia dan ekosistemnya dapat diketahui mempunyai kedudukan dan
peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia khususnya bagi penduduk
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sumber daya alam hayati terdiri atas hewani, yang biasa
disebut sebagai sumberdaya yang berasal dari satwa dan nabati yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Irfan et al. (2011)
mengatakan bahwa sumber daya alam tersebut baik secara individu maupun bersama
- sama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup
yang kehadirannya tidak dapat di gantikan oleh unsur lainnya.
Taman
Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan salah satu kawasan konservasi di
Sumatra yang berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman tumbuhan di
ekosistem hutan hujan pegunungan. Kawasan Taman Nasional Gunung
Leuser mempunyai luas sekitar satu juta hektar dengan memiliki 350
jenis burung dan lebih dari 4.000 jenis flora. Selanjutnya jenis fauna penting yang menjadi sorotan internasional di TNGL adalah orangutan
(Pongo abelii), harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)
(Samsoedin dan Haeriyanto, 2010).
(Samsoedin dan Haeriyanto, 2010).
Terdapat
tiga jenis orangutan di Indonesia,
yaitu orangutan Borneo
(Pongo pygmaeus) yang penyebarannya terbatas pada daerah Kalimantan, orangutan Sumatra (Pongoabelii) terbatas di bagian utara Sumatera dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) khusus di daerah TNBT. Berdasarkan data Departemen Kehutanan 2007 bahwa Orangutan dianggap sebagai suatu ‘flagship species’ yang di nilai memiliki potensi besar menjadi icon pariwisata untuk wilayah Asia secara umum dan Indonesia secara khusus.
(Pongo pygmaeus) yang penyebarannya terbatas pada daerah Kalimantan, orangutan Sumatra (Pongoabelii) terbatas di bagian utara Sumatera dan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) khusus di daerah TNBT. Berdasarkan data Departemen Kehutanan 2007 bahwa Orangutan dianggap sebagai suatu ‘flagship species’ yang di nilai memiliki potensi besar menjadi icon pariwisata untuk wilayah Asia secara umum dan Indonesia secara khusus.
Berdasarkan data WWF ID, Terdapat 13 kantong populasi
orangutan di pulau Sumatera. Dari data tersebut diperkirakan hanya tiga kantong
populasi yang memiliki sekitar 500
individu dan tujuh kantong populasi terdiri dari 250 lebih individu. Untuk keseluruhan
populasi orangutan di Sumatera memiliki populasi sebanyak 14.600 individu
termasuk 800 individu Orangutan tapanuli menurut versi berita harian Mongabay.
P. abelii merupakan salah satu kategori
spesies primata yang dilindungi sesuai dengan ketentuan pada UU No. 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Secara umum, untuk mendukung kehidupan
orangutan diperlukan satu kawasan habitat yang dapat menjamin kehidupannya
untuk survival dan bereproduksi. Banyak kegagalan dalam pengelolaan satwa liar
maupun orangutan, disebabkan karena kurang perhatian dalam memperbaiki keadaan
habitat. Orangutan diperkirakan mempergunakan ruang antara 35-60% dari luas
habitatnya (Afkar dan Nadia, 2015).
Berikut merupakan manfaat dari orangutan secara umum, antara lain:
1. Sebagai Seed
Disperser dalam Meregenerasi Tanaman
Orangutan merupakan spesies yang dapat
bermanfaaat sebagai seed disperser yang memegang peranan penting untuk
meregenrasi tanaman di hutan melalui biji-bijian yang telah dimanaknnya. Ini
merupakan manfaat orangutan yang paling penting dari peranan bagi kehidupan
manusia. Orangutan dapat membantu regenerasi tumbuhan-tumbuhan yang ada di
dalam hutan. Orangutan ketika memakan tumbuhan, akan membuang biji tanaman itu
di sembarang tempat di dalam hutan. Hal ini akan membuat biji yang dibuang
sembarangan tersebut akan tumbuh menjadi pohon yang tumbuh secara alami.
Inilah manfaat orangutan yang juga penting,
berkat orangutan, maka tumbuhan-tumbuhan di dalam hutan akan tumbuh dengan
sendirinya, maka dari itu, kondisi kelangsungan ekosistem hutan dan juga
tanaman di dalam hutan akan menjadi terjaga. Pohon-pohon tersebut akan sangat
baik untuk kehidupan manusia, karena bermanfaat untuk:
·
Memberikan supplai oksigen
·
Memberikan kesejukan bagi lingkungan
·
Menjaga lapisan ozon
·
Dapat menjadi mata pencaharian
2. Sebagai Sumber Pembelajaran
Orangutan dapat menjadi salah satu
pembelajran bagi kita. Kehidupan orangutan yang mirip seperti manusia, dapat
menjadi pembelajaran hidup untuk manusia. Hal ini tentu saja dapat meningkatkan
ilmu pengetahuan yang dimilik oleh manusia.
3. Sebagai Lokasi
Pariwisata
Orangutan juga dapat dimanfaatkan untuk
lokasi pariwisata. Loakasi ini biasanya disebut dengan lokasi ekowisata, dimana
kita dapat mempelajari kehidupan primata seperti orangutan, dan juga dapat
menjadi lokasi untuk relaksasi di tempat wisata tersebut bersama dengan
keluarga. Selain itu, lokasi ekowisata seperti ini juga dapat meningkatkan
relaksasi bagi para pengunjung, dan juga sebagai pelepas stress.
Pada saat ini pertumbuhan dan
perkembangan manusia yang pesat telah menyebabkan keberadaan orangutan semakin
lama semakin tertekan. Pengurangan
jumlah populasi disebabkan banyaknya konversi habitat yang dilakukan manusia
dalam skala besar dari hutan menjadi perkebunan monokultur, illegal logging, pemukiman, pembukaan
lahan untuk ladang, perburuan untuk dikonsumsi ataupun untuk diperjual belikan
sebagai hewan peliharaan. Faktor-faktor tersebut menjadi faktor eksternal yang
berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan hidup orangutan sehingga
kemungkinan besar mengakibatkan orangutan dapat berpindah atau keluar dari
kawasan hutan. Melihat permasalahan tersebut, maka penulis memberikan suatu
upaya yang konkret guna meningkatkan kelestarian kawasan hutan untuk spesies
orangutan Sumatera dan satwa liar lainnya
Upaya yang akan saya
lakukan untuk penyelamatan Orangutan Sumatera dan habitatnya agar tetap dalam
keadaan lestari adalah dengan cara merestorasi kawasan TNGL dengan penanaman jenis
bibit pohon sesuai dengan kriteria tempat bersarang dan sumber pakan Orangutan
Sumatera (Pongo abelii) sesuai dengan ilmu
Dendrologi dan Silvikultur. Ada beberapa ketentuan utama untuk merealisasikan
teknik tersebut, yaitu:
1.
penentuaan Lahan
yang akan direstorasi
Untuk menentukan lahan yang akan direstorasi dan diubah
fungsinya sebagai kawasan habitat spesies Orangutan adalah lahan yang
sebelumnya terdegradasi sebagai lahan pertanian atau perkebunan. saat ini yang
banyak merambah di kawasan TNGL merupakan perkebunan sawit. Selanjutnya
dilakukan pemastian lahan tersebut memiliki tanah yang baik untuk dilakukan
penanaman kembali. Dapat diketahui bahwa tanah di area restorasi TNGL relatif
sama dengan tanah di hutan primer yang dominan kompleks podsolik coklat,
podsolik dan litosol, podsolik merah kuning latosol dan litosol, dan andosol. Jenis
bibit pohon yang akan digunakan dalam kegiatan restorasi yang pertama dengan
menanam bibit pohon yang memiliki kemampuan hidup tanpa naungan lalu di
lanjutkan dengan rentang waktu yang cukup jauh dengan jenis bibit pohon dari
family Dipterocarpaceae, Lauraceae,
Myristicaceae, Malvaceae, Sapindaceae, dan
Moraceae.
Sistem silvikultur yang
digunakan dalam upaya restorasi ini adalah THPB. THPB adalah sistem tebang
habis permudaan buatan dimana sawit yang berada dalam kawasan tersebut di
tebang habis lalu dikonversi dengan bibit pohon yang nantinya akan menjadi
tegakan seumur penentuaan jenis bibit pohon sesuai dengan kriteria Orangutan.
Terdapat dua kriteria bibit pohon yang akan di gunakan
dalam merestorasi kawasan habitat orangutan, yaitu:
a.
Tempat
bersarang
Kriteria yang dimaksud dalam menentukan bibit pohon yang akan menjadi pohon
sarang orangutan merupakan bibit pohon yang setelah pertumbuhannya memiliki
batang yang kuat sebagai penopang kapasitas ukuran orangutan, memiliki
percabangan rapat yang dapat digunakan oleh orangutan sebagai penutup sarang
sesuai dengan ilmu dendrologi.
Dari gambar di atas posisi yang digunakan lebih banyak Orangutan
adalah tipe petit. Tipe ini lebih sering di tempati orangutan jantan agar lebih
mudah untuk memandang daerah sekitarnya. Untuk tipe yang lainnya biasanya
digunakan oleh orangutan remaja yang tidak terlalu berat untuk mengamati
gangguan dari luar. Diketahui untuk bibit yang digunakan dalam kegiatan
restorasi adalah Jenis bibit Litsea firma
(Lauraceae), Knema latericia (Myristicaceae) dan Shorea ovalis / Shorea parvifolia (Dipterocarpaceae).
b.
Sumber pakan
Pemilihan bibit pohon yang akan di perdayakan untuk sumber pakan orangutan memiliki
ketentuan mempunyai buah sebagai sumber pakan yang dapat memikat orangutan baik
dari aroma dan ukuran seperti Durio
zibethinus (Malvaceae), Arthocarpus integer, Ficus carica (Moraceae), dan Litchi chinensis dan Nephelium Lappaceum (Sampindaceae).
DAFTAR PUSTAKA
Irfan, M. (2014). Penegakan Hukum terhadap Tindak Pidana
Pembunuhan Satwa Orang Utan yang Dilindungi Menurut Undang-undang No. 5 Tahun
1990 di Wilayah Ijin USAha Perkebunan Kelapa Sawit (Studi Kasus di Wilayah
Hukum Kabupaten Kutai Kartanegara). Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas
Hukum, 1(1).
Kehutanan, D. (2007). Strategi dan rencana aksi konservasi
orangutan Indonesia 2007–2017. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan
Dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.
Kuswanda, W. (2007). Ancaman Terhadap Populasi Orangutan
Sumatera (Pongo abelii Lesson). Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam, 4(4), 409-417.
Kuswanda, W., & Pudyatmoko, S. (2012). SELEKSI TIPE
HABITAT ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii Lesson 1827) DI CAGAR ALAM SIPIROK,
SUMATERA UTARA. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 9(1),
085-098.
Prayogo, H., Thohari, A. M., Sholihin, D. D., & Prasetyo,
L. B. (2014). Karakter Kunci Pembeda Antara Orangutan Kalimantan (Pongo
pygmaeus) dengan Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Bionatura, 16(1).
Rifai, M.,
Patana, P., & Yunasfi, Y. (2013). Analisis Karakteristik Pohon dan Sarang
Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Bukit Lawang Kabupaten Langkat (Analysis
of the Trees and Nest Characteristics of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) in
Bukit Lawang, Langkat District). Peronema Forestry Science Journal, 2(2),
130-136.q
Rijksen, H.D.
(1978). A field study on Sumatran orang utans (Pongo pygmaeus abelii Lesson
1827): ecology, behaviour and conservation (Doctoral dissertation, Veenman).
Wich, S.A.,
Atmoko, S.S.U., Setia, T.M., & Van Schaik, C.P. (Eds.). (2010). Orangutans:
geographic variation in behavioral ecology and conservation. OUP Oxford.
